Kelas Menengah Penopang RI Jadi Enam Besar Dunia

JAKARTA, KOMPAS.com — Ekonom Standard Chartered, Eric Alexander Sugandi, menyebutkan, pertumbuhan kelas menengah menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan ini, Indonesia diprediksi mampu menjadi perekonomian terbesar keenam pada masa super-cycle tahun 2025-2030.

Super-cycle sendiri merupakan suatu periode di mana perekonomian dunia tumbuh cepat sebagai dampak dari kombinasi beberapa faktor, misalnya saja kemajuan teknologi dan sumber daya alam. Dalam periode ini, Eric menyebutkan, ekonomi Indonesia diperkirakan bisa berada di bawah Amerika Serikat, India, Brasil, dan Jepang.

“Kelas menengah ini menjadi backbone (tulang punggung) super-cycle,” terang Eric dalam paparan ekonomi Indonesia oleh Standard Chartered, di Jakarta, Kamis (24/11/2011). Ia menilai, kelas menengah Indonesia terus tumbuh hingga periode tersebut.

Prediksinya, jelas dia, kelas menengah Indonesia bisa mencapai 240 juta dari 330 juta penduduk nasional per tahun 2030. Atau, naik dari 57 persen dari total populasi nasional (2010) menjadi 78 persen pada 2030. Mengutip informasi Bank Dunia, kelas menengah ini adalah penduduk yang berpenghasilan 2-20 dollar AS per hari.

Di antara jumlah tersebut, terang Eric, kelas menengah-menengah yang berpenghasilan 6-10 dollar AS per hari dan kelas menengah-atas yang berpenghasilan 10-20 dollar AS per hari akan mengalami pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan kelas menengah-bawah yang berpenghasilan 2-6 dollar AS.

Ini karena kelas menengah-bawah lebih berisiko tinggi terhadap guncangan ekonomi ketimbang dua kelas lainnya. Dengan dasar itu, pelaku bisnis dan lembaga keuangan lebih menyasar kelas menengah-menengah dan menengah-atas.

Pertumbuhan kelas menengah ini diperkirakan akan mendorong pertumbuhan konsumsi. Sekarang ini, sebut dia, konsumsi rumah tangga mengambil porsi 56 persen dari PDB. Jadi, dengan pertumbuhan kelas menengah ini, maka konsumsi rumah tangga diperkirakan juga akan tumbuh. “Peran kelas menengah dalam pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan permintaan pada barang, seperti mobil, motor, kartu kredit, housing, apartemen,” tambah dia.

Misalnya saja, menurut data Bank Indonesia, penyaluran pinjaman perbankan untuk perumahan, apartemen, dan konstruksi terus menanjak. Hingga tahun 2010, jumlah penyaluran tersebut mencapai hampir Rp 150 triliun.

Pertumbuhan konsumsi ini juga didorong oleh prediksi kenaikan PDB per kapita nominal dari 2.977 dollar AS pada tahun 2010 menjadi 28.600 dollar AS pada 2030. Namun, angka itu bisa terwujud, terang Eric, jika pertumbuhan ekonomi dalam tingkat yang terkendali sebesar 7 persen per tahun, inflasi 5-6 persen, dan rupiah berada dalam rentang 7.000-8.000 dalam 20 tahun ke depan.

Sumber : http://qrc.kompas.com/web/site/story/3597/18892

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s