Merencanakan Pendidikan sejak Anak dalam Kandungan

Mempersiapkan Dana Pendidikan sejak dalam Kandungan

Merencanakan biaya pendidikan anak harus dimulai sedini mungkin. Bahkan ketika anak masih berada dalam kandungan, orang tua harus mulai memproyeksikan rencana kuliah si anak. Jika tidak direncanakan dengan baik, ekses terparah bisa jadi si anak batal kuliah di masa depan.

Menurut perencana keuangan sekaligus penulis buku ‘Make Your Own Plan!’ Perencanaan Keuangan Nggak Pake Ribet terbitan Elex Media Komputindo, Pandji Harsanto, perencanaan biaya pendidikan anak wajib dilakukan terutama karena satu alasan krusial: inflasi biaya pendidikan rata-rata jauh lebih tinggi ketimbang kenaikan pendapatan.

Setiap tahun, inflasi biaya pendidikan diperkirakan naik sebesar 15-20%. Dalam sepuluh tahun, biaya masuk perguruan tinggi misalnya, bisa naik hingga 3 kali lipat.

“Ada juga yang inflasinya sampai 25%. Kalau sekarang biayanya Rp10 juta, dalam 10 tahun ke depan jika inflasinya sebesar 15% sudah sekitar Rp40,4 juta. Padahal kenaikan pendapatan orang tua per tahun umumnya tidak sebesar itu. Makanya perlu perencanaan matang,” ujar Pandji saat dihubungi di Jakarta, kemarin.

Diungkapkan Pandji, banyak orang tua yang telat merencanakan pendidikan anak karena memandang hal tersebut bukan kebutuhan mendesak. Walhasil, saat ‘musim’ masuk sekolah atau kuliah tiba, orang tua kelabakan mencari dana tambahan untuk biaya pendidikan anak.

“Yang biasanya terjadi seperti itu. Orang tua malas bikin perencanaan karena si anak sekolahnya masih lama. Pas sudah dekat waktunya, baru panik. Padahal kalau direncanakan dengan baik, sebenarnya biaya pendidikan itu bisa tidak mahal,” cetus dia.

Salah satu platform perencanaan pendidikan yang bisa dipakai, menurut Pandji, ialah lewat reksadana. Keuntungan investasi di reksadana umumnya bisa setara dengan naiknya inflasi biaya pendidikan. Selain itu, investasi awal yang dikeluarkan juga tergolong lebih murah.

“Modal awal bisa Rp100 ribu untuk reksadana. Sedangkan untuk tabungan atau deposito, butuh sekitar Rp50-100 juta supaya investasi bis efektif. Untuk seseorang yang gajinya setara UMR (upah minimum regional), akan lebih mudah untuk berinvestasi,” ujarnya.

Selain cukup mudah dan murah, investasi di reksadana juga diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dikelola oleh manajer investasi. Dengan begitu, risiko kerugian bisa diminimalisir. “Risikonya tetap ada, tapi bisa diperkecil. Dan kita bisa pilih risiko dan keuntungan yang paling sesuai bagi kita. Jika dana pendidikan yang dibutuhkan sudah didapat, kita bisa cairkan reksadana atau alihkan ke jenis investasi yang lebih aman,” ujar dia.

Platform lainnya yang bisa digunakan ialah menyimpan logam mulia alias emas. Sebagai alat lindung nilai, emas umumnya tidak terpengaruh oleh perubahan biaya pendidikan. “Karena nilai emas itu tetap, cenderung tidak berubah. Meskipun kadang-kadang ada masanya harga emas itu stagnan,”  imbuhnya.

Meskipun asuransi pendidikan tengah marak, Pandji tetap menyarankan, agar orang tua berinvestasi di reksadana atau platform investasi lainnya. Untuk asuransi, lebih baik asuransi dipilih untuk melindungi orang tua sebagai pencari kerja. Bukan untuk si anak. “Logika yang sekarang itu justru terbalik. Si anak yang tidak bekerja yang dilindungi, bukan orang tua. Sebaiknya orang tua yang dilindungi sebagai pencari nafkah. Jadi ketika terjadi apa-apa pada si pencari nafkah, istri, suami atau anak terlindungi oleh asuransi,” kata Pandji.

Bagi orang tua yang terlambat merencanakan biaya pendidikan, Pandji menyarankan agar mereka melakukan penyesuaian-penyesuaian. Jika perguruan tinggi yang diidamkan terlalu mahal misalnya, maka mau tidak mau orang tua harus legowo menyekolahkan anaknya di universitas yang biaya masuknya lebih rendah. “Makanya pendidikan itu harus direncanakan sedini mungkin. Iya, kalau perlu sejak anak masih dalam kandungan, orang tua sudah merencanakan biaya pendidikan mereka,” tandasnya. (Deo)

Terbit di Harian Media Indonesia hari Kamis tanggal 20 Februari 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s